BANYAKNYA WANITA MUSLIM YANG MEMBUKA AURATNYA
Sungguh merupakan bahaya besar yg tidak disadari oleh kebanyakan umat Islam ketika angin fitnah berhembus kencang menerpa mereka. Tak banyak yg mampu teguh berdiri kokoh. Jika seseorang berhasil mengatasi fitnah syubhat belum tentu mampu menepis fitnah syahwat atau sebaliknya. Hingga akhirnya mereka tidak lagi terlihat melindungi dan menjaga harga diri dan kehormatan.
Justru mencampakkan dan menggantinya dgn kehinaan.
Itulah fenomena yg terlihat di hadapan mata kita terutama pada kaum wanita. Keadaan umat semakin terlihat kacau mereka tampak jauh dari petunjuk Alquran dan sunah sehingga mereka sangat mudah dipatahkan krn tidak mempunyai kekuatan prinsip sama sekali. Sampai-sampai orang yg ingin tetap komitmen terhadap agamanya dan menjaga kesucian diri nya merasa berat menghadapi kenyataan dan selalu berhadapan dgn bahaya yg mengerikan.
Kenyataan tersebut berawal dari hanyutnya sebagian kaum muslimin terhadap propaganda-propaganda dan slogan-slogan batil yg dilancarkan musuh-musuh Islam. Westernisasi oleh umat tidak dihitung sebagai upaya penggeseran nilai-nilai akidah. Sehingga dgn berbagai dalih seperti globalisasi atau universalisasi musuh berhasil menipu umat.
Maka semakin jauhlah manusia dari petunjuk dan kebenaran. Isu globalisasi tersebut telah berhasil mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan antara kebaikan dan kemungkaran antara sunah dan bidah juga antara Islam dan non-Islam.
Teori inilah yg paling jitu utk melunturkan agama dari dalam diri orang beriman dan mengubah umat Islam menjadi binatang piaraan yg mudah dihalau dan dikendalikan. Dengan hal itu mereka meninabobokkan umat membuatnya terlena dalam kesenangan nafsu sehingga perasaan menjadi tumpul tidak mengetahui mana yg baik dan mana yg mungkar. Bahkan ada di antara mereka yg perlahan-lahan mulai murtad dari ajarannya.
Semua ini akibat dari sikap meremehkan kaidah al-wala’ wal-bara’ atau loyalitas kepada agama dan pembebasan diri dari selainnya. Selain itu krn adanya penodaan terhadap makna cinta dan benci krn Allah pembungkaman mulut utk mengatakan kebenaran dan munculnya berbagai tuduhan yg dilontarkan kepada orang yg masih mempunyai kebaikan dan berusaha memperjuangkan kebenaran. Mereka dituduh sebagai teroris ektremis radikalis fundamentalis dan lain-lainnya bahkan julukan-julukan yg sangat keji.
Di antara upaya yg sangat membahayakan dan berpengaruh besar dalam meluluhlantakkan umat Islam dan menghanyutkan mereka dalam gelombang kesenangan syahwat dan kemerosotan akhlak adl penyebaran fitnah berupa upaya memalingkan kaum wanita Islam dari penjagaan-penjagaan keutamaan yg ada dalam diri mereka kepada pintu-pintu kehancuran dan pembukaan berbagai perbuatan keji. Sehingga kebanyakan wanita Islam tidak lagi terlihat melindungi dan memelihara kehormatan serta harga diri malah mengobrak-abrik merusak dan menjadikannya hina.
Dengan semboyan HAM kebebasan kaum wanita kesetaraan gender dan lain-lainnya yg semuanya bersumber dari paham demokrasi yg sesat dan menyesatkan.
Dengan itu mereka telah berhasil mengubah pola pikir wanita-wanita Islam.
Sehingga dgn serta merta kaum wanita Islam mulai meninggalkan hijab ikut meramaikan budaya mengumbar aurat di depan umum bertabarruj dan sufur berpenampilan tidak senonoh dan ikut terlibat dalam pornografi maupun pornoaksi.
Di Indonesia negara berkembang yg berpenduduk mayoritas muslim dan akrab dgn budaya ketimuran sudah mulai terasa derasnya arus budaya Barat. Kaum muslimin mulai mengadopsi budaya-budaya bejat itu. Kaum remaja tanpa batas leluasa meniru gaya orang-orang kafir Barat mulai dari trend mode pakaian gaya bergaul dan gaya hidup. Maka tidak heran jika remaja yg tinggal di kota-kota besar sudah akrab dgn budaya seks bebas. Anehnya para orang tua tidak sedikit yg justru ikut membantu dan mendorong putra-putrinya ke jurang kenistaan dan kemerosotan moral itu. Na’udzubillah min dzalik.
Musuh-musuh Islam menggunakan cara-cara yg sangat halus dalam melancarkan aksi utk sampai pada tujuan mereka. Tahap awal yg mereka lakukan adl menggalakkan budaya ikhtilath .
Ikhtilath yg jelas-jelas tegas dilarang oleh Islam sudah ditanamkan mulai pada anak usia TK hingga di perguruan-perguruan tinggi. Penyebaran budaya sesat ini yg paling gencar melalui media informasi. Di Indonesia kebanyakan acara-acara TV ataupun radio yg bertema kaum muda rata-rata menjiplak acara-acara dari negara-negara Barat. Kita saksikan di bebarapa stasiun TV berbagai program acara yg justru mendidik kawula muda utuk hidup bebas. Ada acara AFI KDI Indonesia Idol Indonesian Star Penghuni Terakhir dan lain-lainnya. Hampir tiap stasiun TV di Indonesia menampilkan acara-acara yg tidak lagi mengindahkan moral dan etika agama.
Tidak hanya ikhtilath yang kelihatan namun kehidupan bebas yg dimeriahkan.
Jadi seakan kawula muda diarahkan utk menerapkan budaya bebas itu dgn cara menyuguhi mereka acara-acara yg sarat dgn pengajaran hidup bebas.
Dari situ kemudian dampaknya mulai meningkat lbh parah. Hijab kerudung atau biasa disebut jilbab mulai ditinggalkan oleh kaum muslimah. Atau paling tidak ada penggeseran dari nilai-nilai dasarnya. Mereka yg masih mau menunjukkan identitas muslimahnya tidak lagi memakai kerudung yg sesuai dgn aturan syariat Islam tetapi memakai kerudung-kerudung mungil gaul sesuai mode yg pada hakikatnya melanggar aturan Islam. Tindakan ini tidak menambah kebaikan sama sekali pada pelakunya justru jika menggalakkan sunnah sayyiah mereka akan mendapat multilevel dosa.
Yang lebih parah lagi ketika kaum muslimah sudah mulai mengadopsi cara perpakaian orang Barat yg jelas mengumbar aurat. Bagi remaja putri mungkin saat ini akan malu jika perpakaian longgar. Gaya berpakaian ala Barat ini sudah dikenalkan pada anak-anak yg baru usia TK. Maka tidak heran jika kita lihat hampir di semua tempat adanya kenyataan yg sangat memprihatinkan. Mereka yg mengaku sebagai muslimah memakai pakaian-pakaian yg ketat bahkan super ketat yg menampakkan lekuk-lekuk keindahan tubuhnya. Dalam hal ini disadari maupun tidak disadari dari fenomena ini diketahui bahwa mereka sudah jauh dari moral dan sangat jauh dari akhlak yg benar. Gaya berpakaian dgn menampakkan pusar atau bagian perut bahkan dada sudah sangat sulit utk dihindari. Sehingga orang yg masih menjaga dirinya merasa risih dgn fenomena ini. Sudah demikian jauhkah keadaan mereka sehingga mereka tidak mengetahui ancaman Rasulullah terhadap wanita-wanita yg memakai busana namun seperti telanjang bahwa mereka adl calon penghuni neraka? Ada yg berusaha membungkus kebusukan ini dgn cara yg lain. Yaitu ketika sebagian tetap memakai kerudung {tentu saja yg mungil trendi gaul dan tidak memenuhi sarat Islam} namun mereka tetap memakai pakaian-pakaian yg ketat. Cara berkerudungnya sudah salah ditambah dgn pakaian yg tidak senonoh.Semua itu menunjukkan hilangnya harga diri dan kehormatan sebagian wanita muslimah. Dan karena kebanyakan manusia sudah diliputi hawa nafsu akibat jauhnya dari petunjuk maka pemandangan semacam itu tidak lagi menjadi masalah justru dini’mati dibela dan diperjuangkan. Na’udzubillah min dzalik.
Sebenarnya masalah ini menjadi tanggung jawab semua lapisan kaum muslimin.
Semua harus berupaya semampunya utk mengembalikan citra harga diri dan kehormatan Islam. Bagi orang tua hendaknya mendidik putra-putrinya agar berakhlak dan berbudaya Islam dan tidak membiarkan mereka larut dgn gaya-gaya orang kafir. Bagi para guru supaya menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak didiknya agar terbentuk pola pikir Islam. Bagi para dai supaya tidak bosan menyuarakan kebenaran dan ajakan utk kembali kepada Alquran dan sunah. Dan bagi semua pihak terutama kaum wanita agar bertakwa kepada Allah berserah diri kepada-Nya tunduk pada tuntunan Rasulullah saw. tidak mudah terbujuk oleh rayuan dan bisikan penyeru kerusakan. Barang siapa mempunyai iman dan keyakinan yg kuat pastilah ia membentengi diri dgn berpegang teguh pada tuntunan syariat Allah.Sesungguhnya awal kesuksesan hidup keselamatan dan kebahagiaan yg hakiki adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw. Sebaliknya awal kesengsaraan kehancuran dan malapetaka adl mengikuti hawa nafsu. Setiap yg menyelisihi sunah adl hawa nafsu dan hawa nafsu mengikuti setan.
Maka marilah kita sesuaikan segala aspek kehidupan kita degan petunjuk Rasulullah saw. agar harga diri dan kehormatan kita tetap terjaga..
Blog ini di buat sebagai tugas mata kuliah "Studi Masyarakat Indonesia" yang di ampu oleh Bpk. Ana Maulana, Drs., M.Pd.
Keblinger
Selasa, 26 Oktober 2010
Rabu, 13 Oktober 2010
Sani Nuryusup(08611047)Masalah kehidupan yang dialami masyarakat indonesia sekarang ini
Masalah kehidupan yang dialami masyarakat indonesia sekarang ini
Indonesia masih memiliki pola pikir masyarakat di era industrialisasi. Ingat kawan, kita sekarang hidup di era yang baru; era informasi. Banyak hal dan kenyataan hidup orang-orang di era industrialisasi yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dan kenyatan yang ada sekarang. Pada era industrialisasi, kita dididik untuk menjadi seorang pekerja industri, dengan segala konsekuensi yang ada. Konsekuensi seperti apa? Konsekuensi yang paling nyata dan dialami oleh kebanyakan orang pada era industrialisasi adalah bertambahnya masalah sosial masyarakat. Keluarga, sebagai komunitas terkecil, telah menjadi salah satu sumber dari masalah sosial tersebut. Orang tua yang harus bekerja dari pagi hingga malam hari, karena tuntutan hidup, semakin kehilangan kontrol dan pengawasan terhadap anak-anaknya. Anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan orang tua akan menimbulkan masalah sosial yang besar bagi masyarakat, sekarang dan dimasa yang akan datang. Disamping itu, pada era industrialisasi, uang dan materi menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, sehingga hal tersebut membuat orang berlomba-lomba untuk mengejar materi demi memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia; kebutuhan aktualisasi diri (pengakuan) dari orang lain (teori Maslow). Kemudian, cara kerja dan gaya hidup orang-orang di era industrialisasi ternyata tidak berhasil memberikan kepastian dan keamanan hidup kepada kebanyakan orang di dunia ini. Hanya segelintir orang saja, yang benar-benar dapat menikmati hidup yang lebih membahagiakan dan bernilai tinggi. Pernahkah Anda Berfikir, Apa Jadinya Anda Dan Keluarga Anda, Jika; - Tiba-tiba Perusahaan Tempat Anda Mencari Nafkah, Memutuskan Untuk Mem-PHK Anda?" - Sesuatu Yang Buruk Menimpa Diri Anda - Bagaimana Kualitas Hidup Anda Pada Masa Pensiun Anda? "Lantas Untuk Apa Anda Bekerja, Siang-Malam, Senin-Jum'at, Jika Anda Tahu Bahwa Kualitas Hidup Masa Pensiun Anda Lebih Buruk Daripada Kondisi Anda Sekarang?" Plan to Fail Itulah yang dikenal dengan sebutan; "plan to fail", yang sesungguhnya! Anda merencanakan hidup Anda sedemikian rupa dengan bersekolah, meraih gelar akademis tinggi, dengan harapan untuk dapat bekerja pada perusahaan yang mampu membayar gaji sesuai dengan keinginan Anda, berkeluarga, dan selanjutnya memasuki masa pensiun. Pertanyaannya adalah; seberapa sering Anda menjumpai orang yang sangat berbahagia lahir-bathin pada masa pensiun-nya? Lihat orang tua Anda, lihat paman dan bibi Anda. Apa yang terjadi dengan mereka pada masa pensiun-nya? Lantas, mengapa kita harus melakukan hal yang sama, seperti yang telah mereka lakukan? Suka atau tidak, kenyataannya adalah pada masa pensiun, orang cenderung mengalami penurunan dari sisi penghasilan, kondisi fisik, dan kepercayaan diri. Hal ini dapat berakibat kepada bertambahnya permasalahan sosial yang harus dihadapi oleh masyarakat. Keperdulian yang tulus terhadap kondisi sosial yang sedang dan akan terjadi, keinginan untuk memiliki hidup yang jauh lebih membahagiakan dan lebih bernilai, serta kebutuhan untuk membantu orang lain, telah menginspirasi kami untuk berbagi dengan sebanyak-banyaknya orang tentang pentingnya kemandirian secara finansial dan mental. Sahabat, jangan jadikan diri kita bagian dari masalah sosial masyarakat, tapi jadikan diri kita sebagai bagian dari solusi atas permasalahan sosial ekonomi masyarakat. "Tidakkah Kita berkeinginan untuk menikmati hidup yang lebih membahagiakan dan bernilai tinggi? Memiliki gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk melakukan apa saja, sesuai dengan keinginan Anda? Gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang Anda cintai. Gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk menolong orang lain, dan lain sebagainya?" "Hidup Hanya Sekali, Sahabat Ku. Buat Hidup Mu Lebih Berarti Untuk Diri Sendiri, Keluarga, Dan Lingkungan"dengan di bekali rasa keimanan dan ketakwaan terhadap alloh swt, cita - cita yang di inginkan akan terlaksana. aman.amin
Indonesia masih memiliki pola pikir masyarakat di era industrialisasi. Ingat kawan, kita sekarang hidup di era yang baru; era informasi. Banyak hal dan kenyataan hidup orang-orang di era industrialisasi yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dan kenyatan yang ada sekarang. Pada era industrialisasi, kita dididik untuk menjadi seorang pekerja industri, dengan segala konsekuensi yang ada. Konsekuensi seperti apa? Konsekuensi yang paling nyata dan dialami oleh kebanyakan orang pada era industrialisasi adalah bertambahnya masalah sosial masyarakat. Keluarga, sebagai komunitas terkecil, telah menjadi salah satu sumber dari masalah sosial tersebut. Orang tua yang harus bekerja dari pagi hingga malam hari, karena tuntutan hidup, semakin kehilangan kontrol dan pengawasan terhadap anak-anaknya. Anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan orang tua akan menimbulkan masalah sosial yang besar bagi masyarakat, sekarang dan dimasa yang akan datang. Disamping itu, pada era industrialisasi, uang dan materi menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, sehingga hal tersebut membuat orang berlomba-lomba untuk mengejar materi demi memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia; kebutuhan aktualisasi diri (pengakuan) dari orang lain (teori Maslow). Kemudian, cara kerja dan gaya hidup orang-orang di era industrialisasi ternyata tidak berhasil memberikan kepastian dan keamanan hidup kepada kebanyakan orang di dunia ini. Hanya segelintir orang saja, yang benar-benar dapat menikmati hidup yang lebih membahagiakan dan bernilai tinggi. Pernahkah Anda Berfikir, Apa Jadinya Anda Dan Keluarga Anda, Jika; - Tiba-tiba Perusahaan Tempat Anda Mencari Nafkah, Memutuskan Untuk Mem-PHK Anda?" - Sesuatu Yang Buruk Menimpa Diri Anda - Bagaimana Kualitas Hidup Anda Pada Masa Pensiun Anda? "Lantas Untuk Apa Anda Bekerja, Siang-Malam, Senin-Jum'at, Jika Anda Tahu Bahwa Kualitas Hidup Masa Pensiun Anda Lebih Buruk Daripada Kondisi Anda Sekarang?" Plan to Fail Itulah yang dikenal dengan sebutan; "plan to fail", yang sesungguhnya! Anda merencanakan hidup Anda sedemikian rupa dengan bersekolah, meraih gelar akademis tinggi, dengan harapan untuk dapat bekerja pada perusahaan yang mampu membayar gaji sesuai dengan keinginan Anda, berkeluarga, dan selanjutnya memasuki masa pensiun. Pertanyaannya adalah; seberapa sering Anda menjumpai orang yang sangat berbahagia lahir-bathin pada masa pensiun-nya? Lihat orang tua Anda, lihat paman dan bibi Anda. Apa yang terjadi dengan mereka pada masa pensiun-nya? Lantas, mengapa kita harus melakukan hal yang sama, seperti yang telah mereka lakukan? Suka atau tidak, kenyataannya adalah pada masa pensiun, orang cenderung mengalami penurunan dari sisi penghasilan, kondisi fisik, dan kepercayaan diri. Hal ini dapat berakibat kepada bertambahnya permasalahan sosial yang harus dihadapi oleh masyarakat. Keperdulian yang tulus terhadap kondisi sosial yang sedang dan akan terjadi, keinginan untuk memiliki hidup yang jauh lebih membahagiakan dan lebih bernilai, serta kebutuhan untuk membantu orang lain, telah menginspirasi kami untuk berbagi dengan sebanyak-banyaknya orang tentang pentingnya kemandirian secara finansial dan mental. Sahabat, jangan jadikan diri kita bagian dari masalah sosial masyarakat, tapi jadikan diri kita sebagai bagian dari solusi atas permasalahan sosial ekonomi masyarakat. "Tidakkah Kita berkeinginan untuk menikmati hidup yang lebih membahagiakan dan bernilai tinggi? Memiliki gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk melakukan apa saja, sesuai dengan keinginan Anda? Gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang Anda cintai. Gaya hidup yang memungkinkan Anda untuk menolong orang lain, dan lain sebagainya?" "Hidup Hanya Sekali, Sahabat Ku. Buat Hidup Mu Lebih Berarti Untuk Diri Sendiri, Keluarga, Dan Lingkungan"dengan di bekali rasa keimanan dan ketakwaan terhadap alloh swt, cita - cita yang di inginkan akan terlaksana. aman.amin
Studi Masyarakat Indonesia
A. Sistem Nilai
Sistem : Seperangkat komponen, elemen, unsur atausubsisten dengan segala atributnya, yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh-mempengaruhi dan saling tergantung sehingga keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi atau suatu totalitas, serta mempunyai peranan atau tujuan tertentu.
Nilai atau peranan sebuah sistem dipengaruhi oleh nilai atau peranan sub-sub sistemnya. Nilai itu selanjutnya menjadi sumber nilai bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara Indonesia. Apakah nilai itu sebenarnya ? Secara etimologi nilai berasal dari kata value (Inggris) yang berasal dari kata valere (Latin) yang berarti : kuat, baik, berharga. Dengan demikian secara sederhana, nilai (value ) adalah sesuatu yang berguna. Beberapa pengertian tentang nilai diberikan sebagai berikut :
Nilai adalah sesuatu yang berharga, baik dan berguna bagi manusia. Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas yang menyangkut jenis dan minat. Nilai adalah suatu penghargaan atau suatu kualitas terhadap suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku manusia, karena sesuatu itu:
- Berguna (useful) ;
- Keyakinan (belief) ;
- Memuaskan (satisfying) ;
- Menarik (Interesting) ;
- Menguntungkan (profitable) ;
- Menyenangkan (pleasant) :
Ciri-ciri dari nilai adalah sebagai berikut /
- Suatu realistik abstrak
- Bersifat normatif
- Sebagai motivator (daya dorong) manusia dalam bertindak.
Nilai bersifat abstrak, seperti sebuah ide, dalam arti tidak dapat ditangkap melalui indra, yang dapat ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Misal, gandum akan bernilai kemakmuran bila dibagikan dan diterima secara adil. Kemakmuran adalah abstrak, tetapi gandum adalah riil. Sebuah pantai akan bernilai keindahan apabila dilukis atau difoto. Keindahan adalah abstrak sedangkan pantai bersifat riil. Contohnya lagi, keadilan ; kecantikan ; kedermawanan ; kesederhanaan ; adalah hal-hal yang abstrak. Meskipun abstrak, nilai merupakan suatu realitas, sesuatu yang ada dan dibutuhkan manusia.
Nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Misalnya nilai keadilan, kesederhanaan. Orang hidup mengharapkan mendapat keadilan. Kemakmuran adalah keinginan setiap orang. Jadi, nilai bersifat normatif, suatu keharusan (das sollen) yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku.
Dalam filsafat Pancasila juga disebutkan bahwa ada 3 (tiga) tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis.
- Nilai dasar
Nilai yang mendasari nilai instrumental. Nilai dasar yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak. Kita menerima nilai dasar itu sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi.
- Nilai instrumental
Nilai sebagai pelaksanaan umum dari nilai dasar. Umumnya berbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.
- Nilai praksis
Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai praksis sessungguhnya menjadi batu ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat Indonesia.
Nilai-nilai dasar dari Pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, nilai persatuan, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara singkat dinyatakan bahwa nilai dasar dari Pancasila adalah nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
Nilai-nilai Pancasila tersebut termasuk nilai etik atau nilai moral. Nilai-nilai dalam Pancasila termasuk dalam tingkatan nilai dasar. Nilai ini mendasari nilai berikutnya, yaitu nilai instrumental. Nilai dasar itu mendasari semua aktivitas kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai dasar bersifat fundamental dan tetap.
Ada hubungan antara nilai dengan norma. Norma atau kaidah adalah aturan pedoman bagi manusia dalam berperilaku sebagai perwujudan dari nilai. Nilai yang abstrak dan normatif dijabarkan dalam wujud norma. Sebuah nilai mustahil dapat menjadi acuan berperilaku kalau tidak diwujudkan dalam sebuah norma. Dengan demikian pada dasarnya norma adalah perwujudan dari nilai. Tanpa dibuatkan norma, nilai tidak bisa praktis artinya tidak mampu berfungsi konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap norma pasti mengandung nilai. Nilai sekaligus menjadi sumber bagi norma. Tanpa ada nilai tidak mungkin terwujud norma. Sebaliknya, tanpa dibuatkan norma, nilai yang hendak dijalankanitu mustahil terwujudkan. Sebagai contoh ada norma yang berbunyi “dilarang membuang sampah sembarang” atau “Buanglah sampah pada tempatnya”. Norma di atas berusaha mewujudkan nilai kebersihan. Dengan mengikuti norma tersebut diharapkan kebersihan sebagai nilai dapat terwujudkan dalam kehidupan. Ada norma lain misalnya yang berbunyi “Dilarang merokok”. Norma tersebut dimaksudkan agar terwujud nilai kesehatan.
Akhirnya yang tampak dalam kehidupan dan melingkupi kehidupan kita adalah norma. Norma yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari ada 4 (empat), yaitu sebagai berikut :
- Norma agama
Norma ini disebut juga dengan norma religi atau kepercayaan. Norma kepercayaan atau keagamaan ditujukan kepada kehidupan beriman. Norma ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan dan dirinya sendiri. Sumber norma ini adalah ajaran-ajaran kepercayaan atau agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan. Tuhanlah yang mengancam pelanggaran-pelanggaran norma kepercayaan atau agama itu dengan sanksi.
- Norma moral (etik)
Norma ini disebut juga dengan norma kesusilaan atau etika atau budi pekerti. Norma moral atau etik adalah norma yang paling dasar. Norma moral menentukan bagaimana kita menilai seseorang. Norma kesusilaan berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi. Asal atau sumber norma kesusilaan adalah dari manusia sendiri yang bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir, tetapi ditujukan kepada sikap batin manusia. Sanksi atau pelanggaran norma moral berasal dari diri sendiri.
- Norma kesopanan
Norma kesopanan disebut juga norma adat, sopan santun, tata karama atau norma-norma fatsoen. Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kepatuhan atau kepantasan yang berlaku dalam masyarakat. Daerah berlakunya norma kesopanan itu sempit, terbatas secara lokal atau pribadi. Sopan santun di suatu daerah tidak sama dengan daerah lain. Berbeda lapisan masyarakat, berbeda pula sopan santunnya. Sanksi atas pelanggaran norma kesopanan berasal dari masyarakat setempat.
- Norma hukum
Norma hukum berasal dari luar diri manusia. Norma hukum berasal dari kekuasaan luar diri manusia yang memaksakan kepada kita. Masyarakat secara resmi (negara) diberi kuasa untuk memberi sanksi atau menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini pengadilanlah sebagai lembaga yang mewakili masyarakat resmi untuk menjatuhkan hukuman.
Karena banyaknya istilah moral, moralitas, immoral dan amoral akan lebih baik bila dipertegas lebih dahulu pengertian istilah tersebut. Kata dan istilah Moral sering juga dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik lewat percakapan, tulisan maupun berita. Istilah moral ini bisa digunakan untuk maksud yang berbeda, tentu saja sesuai dengan konteks dan makna pembicaraan yang dimaksud. Akan tetapi bila ditelusuri asal-usul kata, istilah moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak dari mores) yang berarti adat, kebiasaan.
Moral secara istilah adalah nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Sedangkan istilah amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis dan non moral, sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik atau secara moral buruk atau tidak etis. Dalam kamus yang berkembang di Indonesia, amoral berarti immoral dalam pengertian di atas dan pengertian immoral sendiri kurang dikenal.
B. Pengertian Budaya dan Kebudayaan
Budaya dan kebudayaan merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki arti sebagai suatu yang merupakan hasil dari penggunaan akal budi manusia. Kebudayaan memiliki arti sebagai suatu budaya yang memiliki sifat kebendaan.
Sedangkan budaya itu sendiri memiliki pengertian sebagai sarana yang dihasilkan melalui penggunaan cipta rasa dan karsa. (Koentjoroningrat).
Budaya berasal dari kata ‘Budhi’ yang artinya adalah sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia untuk merespon pengaruh dari lingkungan alam dan sosial. Hasil dari respon itulah yang disebut sebagai budaya.
Seperti dikemukakan oleh JJ. Honigman : bahwa bentuk budaya manusia dapat di bedakan kedalam 3 kategori, yakni :
a. Ideas, yakni berupa ide-ide gagasan dan buah pikiran.
b. Aktivities yakni kegiatan dalam upaya merealisasikan ide gagasan dan buah pikiran.
c. Artifacts, adalah hasil dan kegiatan manusia.
Contoh : suatu ide, gagasan atau buah pikiran untuk memecahkan masalah kemiskinan. Ide gagasan atau buah pikiran diutarakan dalam rapat, diskusi. Aktivitas rapat atau diskusi tersebut merupakan suatu proses, yang selanjutnya akan menghasilkan sesuatu, misal : keputusan impor beras, kebijakan dan lainnya.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa pengertian budaya bukan berarti pasti sebagai sesuatu barang/benda, seperti rumah, meja, mobil; melainkan juga memiliki pengertian sebagai proses atau kegiatan seperti rapat diskusi dan juga hasil dari rapat dan diskusi tersebut, termasuk material dan non material.
Contoh budaya :
a. Ideologi kepercayaan, buah pikiran, gagasan.
b. Rapat, diskusi, tarian, dsb.
c. Mobil, TV, pakaian, keputusan, kebijakan dsb.
C. Sikap dan Prasangka
Sikap menurut Morgan (1966) adalah kecenderungan untuk berespons, baik secara positif dan negatif terhadap orang, objek atau situasi. Tentu saja kecenderungan merespon ini meliputi perasaan atau pandangannya, yang tidak sama dengan tingkah laku. Sikap seseorang baru diketahui bila ia sudah bertingkah laku. Sikap merupakan salah satu determinan dari tingkah laku, selain motivasi dan norma masyarakat.
Dalam sikap terkandung suatu pernilaian emosional yang dapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta, benci dan sebagainya. Dalam sikap ada “Suatu kecenderungan berespon” .
Sikap memiliki komponen-komponen :
1. Kognitif : memiliki pengetahuan mengenai objek sikapnya, terlepas pengetahuan itu benar atau salah
2. Afektif : mempunyai evaluasi emosional (setuju-tidak setuju) mengenai subjek sikapnya.
3. Konatif : Kecenderungan bertingkah laku bila bertemu dengan objek sikapnya, multi dari bentuk yang positif (tindakan sosialisasi) sampai pada yang sangat aktif (tindakan agresif)
Prasangka mempunyai dasar pribadi, yang setiap orang memilikinya, Sejak manusia masih kecil, unsur sikap bermusuhan sudah nampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, timbul sikap cenerung untuk membeda-bedakan. Perbedaan yang secara sosial dilaksanakan antara lembaga atau kelompok dapat menimbulkan prasangka. Kerugiannya : Prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun-temurun) sehingga tidak mengherankan kalau prasangka ada, pada mereka yang cara berpikirnya sederhana dan masyarakat tergolong cendekiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan.
Oleh karena itu sikap dan prasangka perlu mendapat perhatian dengan seksama mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa atas masyarakat multietnik.
Langganan:
Komentar (Atom)